Rabu, 24 November 2021

Hidup tidak adil, katanya

 Kadang suka mikir,

Dunia ini gak adil, ya. 


Tidak sedikit kumpulan manusia yang kerja berpeluh keruh, pilu membiru, sendu mengadu..

Namun dunia tetap tidak berlabuh di pihaknya.



Sedang yang lain,

Hanya perbuat sedikit,

Kehidupannya bisa sangat nyaman aman, ria berbahagia, tak tenggelam dalam kelam.



Kadang kala pun aku berpikir,

Akankah sama rata itu suatu keelokan?

Atau mungkin strata berundaklah jawabannya?



Mungkin,

Mungkin Tuhan juga pikir ini salur jalur terbaik.

Mungkin seperti konsep ladang padi

Akan lebih indah jika berkelok

Jika berbeda


Mungkin juga jika semua adil itu akan terlihat mengenaskan

Haru yang mengenaskan


Dan ini akan terus menjadi langganan pertanyaan manusia di muka bumi

Mengapa hidup tidak adil?







Jumat, 14 Mei 2021

Anak adalah Investasi (Katanya)

Tidak semua orang cocok menjadi orang tua

Tidak semua orang cocok punya anak

Tidak semua orang cocok menjadi panutan

Tidak semua orang cocok menjadi tumpuan harapan

Ada kalanya,

Manusia yang cocok dengan hal-hal tersebut,

Justru merekalah yang susah mendapatkan

Banyak orang tua yang tidak bisa mendidik anaknya,

Menghardik anaknya dengan sebutan durhaka dengan mudahnya,

Padahal sebutan tersebut kronisnya bisa bersifat dua arah. 


Orang-orang yang bijaksana,

Yang mendamba buah hati,

Justru mereka menemukan rintangan yang berliku,

Untuk sekedar mempunya


Padahal,

Mereka bisa saja mendidik anak menjadi pribadi yang hebat, terlatih, sabar, bijak, nan tabah. 

Sayangnya konsep kehidupan tidak seperti itu. 


Di beberapa momen,

Kehidupan tidak berjalan seperti yang kita mau,

Tapi kehidupan berjalan seperti yang seharusnya. 

Manusia pun terus dan terus,

Mempertanyakan pertanyaan yang tak ada jawabannya. 

Beberapa manusia di dunia ini,

Begitu bangga akan orang tuanya,

Di sisi lain,

Sebagian orang mempertanyakan mengapa harus lahir dengan orang tua ini. 

Bagi sebagian orang tua,

Hal tersebut bukanlah masalah,

Tapi bagi diri pribadi,

Akan sangat menyedihkan jika suatu saat anak saya berpikir seperti itu. 

Karena saya tau,

Dia tidak minta dilahirkan di dunia ini. 

Jika dia terlahir,

Tentu saja itu sebab-akibat atas perihal apa yang saya lakukan di masa lalu. 

Disukai atau tidak. 


Lalu,

Mengapa sebagian orang berpikir anak adalah investasi?

Padahal mereka tidak ingin menjadi hal tersebut. 

Mengapa orang tua harus menjadi investor ketika pasar saja tidak ingin menjadikan dirinya pasar yang harus terus bertumbuh?

Lantas, 

Ketika anaknya menolak untuk memberikan timbal hasil,

Anaknya yang disalahkan. 


Lagi-lagi,

Tentu saja tidak semua orang tua seperti itu. 

Tidak semua orang tua bermain peran sebagai investor. 

Masih banyak sebagian orang tua yang memang berperan sebagai funder. 

Tanpa pamrih. 

Berjiwa besar.


Mereka mengerti,

Anaknya yang terlahir,

Tanggung jawab mereka sampai kapanpun. 

Setidaknya sampai mereka dewasa. 

Bahagianya mereka sederhana. 

Sesederhana anaknya bisa ada waktu menemaninya. 

Sesederhana masih mau diajak ngobrol dengan mereka saat anaknya tentu saja berada di masa-masa produktifnya. 



Sebagian orang lagi,

Yang mengerti betul bahwa sulitnya mencapai titik ini,

Titik dimana rasa tanpa pamrih ini adalah level cinta tertinggi,

Memutuskan dirinya agar tidak berpikir untuk investasi ke manusia kecil yang mungkin akan lahir dari dalam diri mereka. 


Mereka tau alter ego mereka seperti apa,

Oleh karenanya mereka memutuskan hal-hal apa yang sanggup mereka pertanggung jawabkan dan tidak.



Bukankah hal ini jauh lebih baik dibandingkan hanya memiliki,

Tanpa rasa tanggung jawab yang memang sudah sepatutnya dipunya?


Menyedihkan memang,

Banyak norma di timur negara ini,

Bahwa memiliki buah hati adalah kewajiban,

Tetangga dan orang tua yang khawatir jika sebagian dari mereka yang tidak memiliki anak,

Akan berpikir kalian akan kesepian jika tidak memiliki setidaknya satu,

Anak yang mereka pikir dilahirkan hanya untuk disuruh-suruh,

Atau memang dijadikan investasi agar sekedar mengurus masa tua mereka. 



Masih banyak orang tua yang ingin anaknya melakukan apa yang mereka inginkan,

Apa yang mereka butuh,

Apa yang mereka paham tentang diri mereka. 

Saat itu,

Mereka merasa dan yakin,

Pengalaman hidup merekalah lah yang terbaik,

Karena tentu saja,

Pengalaman hidup yang kalian jalani hanya satu itu,

Maka biarkan anak kalian memilih pengalaman hidup yang berbeda dari yang kalian pilih sebelumnya. 

Maka buah dari pemikiran ini berharap,

Semoga,

Orang-orang yang memang akan menjadi orang tua nanti,

Adalah orang-orang yang paham,

Yang pantas,

Yang bijak,

Yang sabar,

Yang tabah,

Yang mengasihi tanpa pamrih,

Yang siap bertarung dengan resikonya,

Ribuan resiko menyenangkan nan menyedihkan di depan sana,

Termasuk apakah kalian ada ada atau tidaknya dalam rencana anak-anak tersebut,

Seperti yang digambarkan film-film klasik bagaimana orang tua sepatutnya,

Semoga dunia dipenuhi dengan belas kasih yang murni dan tulus 

Agar bisa mengurangi ironi kehidupan yang tidak perlu

Dan semoga saja anak-anak ini nantinya,

Tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana lagi dari tetuanya.



Kamis, 01 April 2021

Tuhan, ajarkan aku banyak hal.


Ajarkan aku memahami apa itu beda

Ajarkan aku bagaimana untuk memahami

Ajarkan aku untuk merasa cukup

Ajarkan aku untuk tidak membedakan

Ajarkan aku sabar

Ajarkan aku tenang

Ajarkan aku indahnya sederhana


Ajarkan aku, bahwa aku tidak kurang dari awal dan akan terus cukup sampai akhir

Rabu, 25 November 2020

Anak Durhaka

Ada cerita ironi. 

Seorang ibu yang selalu mendoakan agar anaknya selalu dimudahkan rezeki serta senantiasa baik saja dalam lindungan Tuhan-Nya. Akan tetapi, dia sendiri yang dengan mudahnya menyebut anak itu tersebut durhaka dan menghambat segala kemudahan dari alam semesta. 

Rabu, 22 April 2020

Jari-jari

Dunia ini hanya sebuah pertunjukkan, kawanku
Kita hanya seorang figuran
Kita bebas tidak terikat apapun
Hiruplah udara segar ini, kawanku!

Dunia ini dipenuhi benang yang terikat dengan jari
Jari-jari kecil memainkan boneka besar
Kawanku,
Kita tidak pernah tahu itu jari siapa
Tetapi,
Jika kau terikat benang itu
Aku akan menolongmu untuk memutuskannya

Sang Dalang

Sang dalang memilih wayang-wayangnya
Berbeda sifat pada setiap wayang
Sombong, jahat, angkuh, baik, rendah hati dan banyak sifat lainnya engkau masukkan dalam satu cerita
Sang dalang membuat cerita sangat menarik
Cerita pertarungan para dewa di atas tanah para penyembah
Dengan tangan sang dalam mulai memainkan wayang-wayangnya
Lihat, teratur dan sangat baik memainkan wayang-wayangnya
Lihai, teratur dan sangat baik memainkan wayang-wayangnya di balik layar
Para penonton terdiam kagum melihat para dewa bertempur dengan tegang di atas tangisan
Dan penderitaan para penyembah yang tidak di pedulikan
Sang dalang terus memainkan wayang-wayangnya
Pertempuran-pertempuran para dewa terus berlanjut bagai badai tak berkesudahan
Melihat tanahnya hancur para penyembah berubah menjadi pemberontak


Penulis: Rama Abimanyu

Rindu

Penulis: Rama Abimanyu


Matahari tenggelam membawa ku ke tempat sepi
Melewati malam menatap rembulan
Pikiranku melayang mengejar hangatmu di sisi
Kenangan sepanjang jalan Brawijaya
Jalan Brawijaya

Ku jemput sang hati di jalan Brawijaya
Memanggil namamu tanda hadirku ada
Kau menjawab untuk menanti hadirmu
Kini hadirmu bagai bidadari
Mewarnai indah di dalam hati

Aku dan sepeda siap mengajakmu jalan
Duduk di belakang dan memelukku erat
Kita menyisir jalan dengan tawa